Rakyat Merdeka Online

Share |
Rezim Baru Diuji Perang Suku di Gurun Libya
Rabu, 22 Februari 2012 , 17:33:00 WIB

RMOL. Kerusuhan sengit antar dua suku di gurun terpencil Selatan Libya telah menewaskan sekitar 134 orang dalam 10 hari terakhir. Kenyataan itu merupakan pukulan telak bagi Pemerintah Dewan Transisi Nasional (NTC) yang ingin mengembalikan keamanan di Libya usai menjungkalkan Moammar Khadafi.

"Sekitar 113 warga dari suku Toubu dan 23 dari suku Zwai terbunuh dalam kerusuhan di wilayah terpencil Kota Kufra di Gurun Sahara," demikian pernyataan dari kedua pihak suku yang bertikai, seperti disiarkan oleh AFP, Rabu (22/2).

Pihak NTC dikabarkan belum menengahi insiden berdarah yang berlangsung. "Kami sudah berusaha menghubungi pihak NTC, tetapi tidak ada respons," keterangan Kepala Suku Toubu, Issa Abdelmajid.

"Kami sudah terkepung selama sepekan. Sejak awal kerusuhan terjadi, sudah 113 warga kami terbunuh termasuk enam orang anak-anak," lanjut Abdelmajid.

Sementara pihak Suku Zwai membenarkan 23 anggota sukunya tewas dalam kejadian ini. Selain itu 53 orang suku Zwai juga dilaporkan terluka.

"Suku Toubu mendapatkan bantuan dari elemen asing dari Chad dan Sudan. Kami sudah menangkap beberapa warga Chad dan Sudan," tutur juru bicara suku Zwai, Yunus Zwai,

Baku hantam ini mempersulit usaha NTC untuk menjaga kesatuan Libya usai lengsernya rezim Khadafi. Pasukan Pemerintah Libya akan melakukan intervensi jika bentrokan antarsuku yang berseteru demi penguasaan daerah di ujung tenggara negara itu tidak kunjung berhenti. Panglima angkatan bersenjata Yousef al-Mangoush mengatakan, perjanjian antara kedua pihak telah dicapai pada hari Minggu lalu, tapi bentrokan-bentrokan lebih seru masih meletus dua hari terakhir.

"Kementerian pertahanan dan militer memperingatkan, jika pertempuran tidak berhenti akan ada intervensi militer yang menentukan untuk menghentikan bentrokan-bentrokan itu," katanya.

Dia menambahkan, pasukan militer berada di daerah itu, tetapi sejauh ini tidak turun tangan. Dia juga membantah ada warga asing di sana dan mengatakan masalah antara kedua suku adalah konflik warisan dan perlu dilakukan rekonsiliasi.[Shari Triharmayanti/ald]


Baca juga:
Putra Khadafi Akan Kembali ke Libya dan Membangun Pemerintahan
Pengunjuk Rasa Protes Dewan Transisi Libya
ICC Kecam Pemerintah Libya karena Menjamu Presiden Sudan
Aisha Khadafi Sewa Pengacara Israel untuk Selidiki Kematian Sang Ayah
AS Temukan 5 Ribu Rudal di Libya

Komentar (1)

Nama
Judul
Komentar
  1. Demokrasi Iblis
    22.02.2012, 18:06 WIB
    Komentator: Permadi
    Inilah hasil dari demokrasi ala barat yang dipuja2 tetapi tidak sesuai denga kultur lokal...dan kalau Indonesia terlalu memuja demokrasi kejadian yang sama juga mungkin akan terjadi bisa saja perang antara suku Madura dg Jawa taua Maduara dg Daya teperti yang sudah pernah terjadi dan bisa saja Betawi dg Jawa atau Sunda dg Jawa apa lagi kalau Orang jawa masih mengaggap orang yang paling super di Indonesia..apalagi demokrasi betujuan hanya untuk korupsi

Wow, Putin Balik Maning!

Iwak Peyek Pun Tidak Menolong Tebu


Kabinet Indonesia Berduka


Merencanakan Keuangan Untuk Liburan


 

Lupakan Tragedi 2008

Jelang duel final Liga Champions lawan tuan rumah Bayern Muenchen di Allian ...

 

Spanyol Incar Juara Beruntun 3 Kompetisi Akbar

Tim Matador, julukan Spanyol memiliki misi khusus pada Euro 2012, Juni, men ...

 

Rossi Ngarep Bawa Aspal Le Mans

Meski performa motornya beĀ­lum sempurna, Valentino Rossi masih mempunyai h ...

 

Dipecat Liverpool, Dalglish Legowo

Karier kepelatihan Kenny Dalglish bersama Liverpool harus berakhir tragis. ...